3 Juni 2012
Jakarta
Rapuh...
Mungkin itu adalah kata yang melekat pada diri seorang gadis yang sedang duduk terpaku di sudut taman. Matanya menyusuri pepohonan, dedaunan yang sedang jatuh ke tanah, sampai ke anak-anak kecil yang berlarian bermain di taman. Pikirannya melayang mencari jawaban teka teki hidup yang menggelayut di pikirannya. Apa yang akan terjadi setelah ini, kebahagiaan atau justru sebaliknya? Matanya kembali tertuju pada dedaunan yang berjatuhan. Akankah ia bernasib sama seperti daun yang selalu bertahan menahan hembusan angin yang datang namun akhirnya dia akan tetap jatuh. Matanya menyelidik pohon mengantar ia pada sebuah khayal, sebuah pohon tetap kokoh berdiri sekalipun dedaunan meninggalkannya pergi, bisakah ia menjelma menjadi sosok pohon yang seperti itu. Dan ketika matanya beralih kepada anak-anak yang sedang bermain benaknya berkata akankah adik-adiknya akan bahagia nantinya dengan kerja kerasnya selama ini?
Gadis itu bernama Ika terlahir sebagai anak pertama dari 4 bersaudara. Ia adalah satu-satunya anak wanita dalam keluarganya, ketiga adiknya bernama reno, obi, dan wafa. Berbekal doa dari orang tua Ika berangkat merantau di sebuah kota yang sangat hingar bingar. Menuntut ilmu baik ilmu akademik maupun ilmu kehidupan ia jalani di kota ini. Ia selalu bersemangat untuk tetap bertahan hidup di sana. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun tak terasa ia sudah cukup lama meninggalkan kota kelahirannya. Rindu datang merasuk dalam jiwa sebagai pengingat bahwa keluarganya yang di sana esok akan sangat bergantung pada dirinya. Tak jarang ia menghubungi keluarganya di desa untuk menanyakan kabar mereka. Suara lembut seorang ibu selalu bertanya ,"tadi makan sama apa?". Tutur lugas dari seorang ayah pun menyapa ,"kau harus selalu ingat kepada-Nya nak!". Ya, dua kata itulah yang selalu terngiang di setiap tidurnya menjadikan ia kuat seperti pohon, perih, sakit, dan pedih seakan lewat begitu saja dalam harinya. Tak pernah ia rasa, ia keluhkan, bahkan ia sesalkan kondisinya saat ini. Pekerjaan yang remeh sampai yang terlalu berat pun ia lakukan demi bertahan hidup. Demi melihat keluarganya tersenyum.
Bukan hal gampang baginya untuk tetap mempertahankan prestasinya sedangkan ia seolah tak punya waktu untuk memikirkan kuliahnya. Pekerjaanya sudah terlalu banyak menguras pikiran serta tenaganya. Sekarang adalah tahun ketiga ia kuliah. Rasa-rasanya semangat semakin memudar tidak seperti dulu. Semua terasa begitu monoton dan sangat membosankan. Rutinitasnya membuatnya penat. Akan tetapi ia sadar bahwa kehidupannya terus berjalan. Dalam hatinya ia berucap, ia harus terus berjalan meskipun bukan berlari seperti dulu. Dan ia masih terus mencari semangatnya yang telah lama hilang..
To be continued...
is this you?
BalasHapusmay be yes may be no.... :P
BalasHapus